Follow Me on Pinterest

Cikal Bakal Bahasa Sunda

Cikal Bakal Bahasa Sunda Cerudik by bang kaus on . bang kaus bekisahCikal Bakal Bahasa Sunda Cerita Bang Kaus. Unik mengulas Berita, Menarik Mengupas Fakta, Nyentrik menyingkap kisah Nyeleneh dalam kata Rating: 4

Bahasa Sunda dituturkan oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah Bahasa Jawa. Sesuai dengan sejarah kebudayaannya, bahasa Sunda dituturkan di provinsi Banten khususnya di kawasan selatan provinsi tersebut, sebagian besar wilayah Jawa Barat (kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi dimana penutur bahasa ini semakin berkurang), dan melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes, Jawa Tengah.

Pitnah Sunda

Dialek bahasa Sunda
Dialek (basa wewengkon) bahasa Sunda beragam, mulai dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda. Dialek-dialek ini adalah:

* Dialek Barat
* Dialek Utara
* Dialek Selatan
* Dialek Tengah Timur
* Dialek Timur Laut
* Dialek Tenggara

Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan. Dialek Utara mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di sekitar Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kuningan, dialek ini juga dipertuturkan di beberapa bagian Brebes, Jawa Tengah. Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis.

Sejarah dan penyebaran

Cikal Bakal Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda. Namun demikian, bahasa Sunda juga dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Brebes dan Cilacap. Banyak nama-nama tempat di Cilacap yang masih merupakan nama Sunda dan bukan nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu, dan sebagainya. Ironisnya, nama Cilacap banyak yang menentang bahwa ini merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama ini merupakan nama Jawa yang “disundakan”, sebab pada abad ke-19 nama ini seringkali ditulis sebagai “Clacap”.

Selain itu menurut beberapa pakar bahasa Sunda sampai sekitar abad ke-6 wilayah penuturannya sampai di sekitar Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, berdasarkan nama “Dieng” yang dianggap sebagai nama Sunda (asal kata dihyang yang merupakan kata bahasa Sunda Kuna). Seiring mobilisasi warga suku Sunda, penutur bahasa ini kian menyebar. Misalnya, di Lampung, di Jambi, Riau dan Kalimantan Selatan banyak sekali, warga Sunda menetap di daerah baru tersebut.

Fonologi
Saat ini Bahasa Sunda ditulis dengan Abjad Latin dan sangat fonetis. Ada lima suara vokal murni (a, é, i, o, u), dua vokal netral, (e (pepet) dan eu (?), dan tidak ada diftong. Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r, dan y.

Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia diubah menjadi konsonan utama: f -> p, v -> p, sy -> s, sh -> s, z -> j, and kh -> h.

Undak-usuk

Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda – terutama di wilayah Parahyangan – mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetap dominan.

Tradisi tulisan
Bahasa Sunda memiliki catatan tulisan sejak milenium kedua, dan merupakan bahasa Austronesia ketiga yang memiliki catatan tulisan tertua, setelah bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Tulisan pada masa awal menggunakan aksara Pallawa. Pada periode Pajajaran, aksara yang digunakan adalah aksara Sunda Kaganga. Setelah masuknya pengaruh Kesultanan Mataram pada abad ke-16, aksara hanacaraka (cacarakan) diperkenalkan dan terus dipakai dan diajarkan di sekolah-sekolah sampai abad ke-20. Tulisan dengan huruf latin diperkenalkan pada awal abad ke-20 dan sekarang mendominasi sastra tulisan berbahasa Sunda.

Bilangan dalam bahasa Sunda

Bilangan Lemes
1: hiji
2: dua
3: tilu
4: opat
5: lima
6: genep
7: tujuh
8: dalapan
9: salapan
10: sapuluh

Simak Cerita Bang Kaus Terpopuler

Artikel Bang Kaus Yang Mungkin Terkait

  1. Earth Day Dan Kearifan Lokal Masyarakat Indonesia
  2. Pasukan Elit Jaman Jadoel
  3. Ciuman Massal omed-omedan Banjir Pengunjung
  4. Tahukah Anda 7 Orang Paling Misterius di Indonesia?
  5. Festival Seni Budaya Islam Desa Kemuja Berakhir
  6. Tasya Agustina Thalib aka Aya Lancaster: Novelnya Laris di 28 Negara
  7. Teratai Raksasa Sungailiat Masuk Muri
  8. Cap Go Me Kuday diikuti Ribuan Warga
  9. Kampong Gedong Pecinan Kuno
  10. Jika Anda Tahu Asal Rokok Itu..
  11. Wong Fei Hung (Faisal Hussein Wong) Ternyata Seorang Muslim
  12. 7 Tradisi Budaya Daerah Indonesia Jelang Puasa
  13. Riwayat Keroencoeng: Lebih Dekat Dengan Warisan Indonesia
  14. Pengorbanan Sang Proklamator Mendirikan Patung Dirgantara
  15. Galian Baru dari Kalender Bulan Maya
  16. Against! Klaim Malaysia Atas Tari Tor-tor
  17. Ragam Ilmu Kejawen Yang Pernah Ada Di Indonesia
  18. Batik Fraktal, Perpaduan Seni dan Teknologi
  19. Bijimana Menebak Siapa Nyang Kentut?
  20. Kancot Gadis Bangsawan Jaman Kerajaan

DUKUNG bangka.us hidup Lebih HIDUP DENGAN LIKE.

Apa Komentar Anda Tentang "Cikal Bakal Bahasa Sunda"

Category: Budaya

banner ad